Liverpool Diminta Tiru Leicester

Liverpool Diminta Tiru Leicester

Liverpool Diminta Tiru Leicester

Lini pertahanan (lagi-lagi) masih jadi problem akut Liverpool musim ini. Jika ingin segera membaik, The Reds diminta meniru Leicester City yang melaju musim ini karena tangguhnya lini belakang.

Meski sudah melakukan pergantian manajer dari Brendan Rodgers ke Juergen Klopp, performa Liverpool belum sepenuhnya membaik. Mereka hanya meraih lima poin dari kemungkinan 18 poin selepas pergantian tahun.

Alhasil, posisi mereka kini ada di urutan kesembilan klasemen dengan 35 poin, selisih 12 angka dari Arsenal di posisi keempat. Padahal di awal kedatangan Klopp, Liverpool sempat tampil oke.

Lagi-lagi satu masalah krusial belum dituntaskan Klopp yakni soal lini pertahanan. Memang lini depan pun tak kalah bermasalahnya, meski performa para pemain bertahan Liverpool tetap paling disorot.

Punya empat bek tengah berpengalaman, seperti Martin Skrtel, Dejan Lovren, Mamadou Sakho, dan Kolo Toure, tak sepenuhnya membuat pertahanan aman. Apalagi performa Simon Mignolet di bawah mistar juga masih angin-anginan.

Total 36 gol bersarang di gawang Mignolet, hanya lebih baik dari tim-tim seperti Bournemouth, Newcastle United, Norwich City, Aston Villa, dan Sunderland, yang semuanya berada di papan bawah.

Pada laga terakhir, hasil imbang 2-2 lawan Sunderland juga diraih karena keteledoran lini belakangnya setelah sempat memimpin 2-0 lebih dulu.

Liverpool diminta untuk meniru Leicester yang musim ini bisa memuncaki klasemen. Tak cuma kuat di depan, lini belakang The Foxes yang digawangi duet Wes Morgan dan Robert Huth, bersama Kasper Schmeichel membuat mereka sulit ditaklukkan. Buktinya hanya dua kekalahan didapat Leicester musim ini.

“Anda lihat Leicester – berada di puncak Premier League, unggul lima poin, dan striker mereka luar biasa,” ujar eks pemain Liverpool, Alan Hansen, dalam kolomnya di Mirror.

“Tapi kombinasi Wes Morgan dan Robert Huth di lini belakang-lah yang jadi kuncinya dan itu membuat mereka punya tim yang kuat untuk bersaing di jalur juara,” sambung pemain yang berposisi sebagai bek tengah semasa bermain untuk Liverpool itu.

“Mereka bisa jadi contoh untuk Liverpool – dua bek tengah yang stabil di belakang adalah yang dibutuhkan mereka – tapi siapa yang pantas berduet di sana? Saya belum menemukan solusi yang pasti saat ini.”

“Komponen paling penting di lini pertahanan adalah kiper dan dua bek tengah. Jika Anda punya kiper yang mampu mengomandoi lini belakang dengan baik, serta due bek tengah, maka Anda punya fondasi tim yang kokoh dan tim-tim lain akan sulit membobol gawang Anda.”

“Anda harus bisa membangun duet itu secara berkelanjutan, sistem yang cocok dengan para pemain dan cara bermain yang pasti – dan Liverpool belum memiliki itu musim ini,” tutup pemain Liverpool era 1977 hingga 1991 itu.